Masyarakat Tak Terbiasa Berpikir Rasional dalam Berkendaraan

Grosir Tas Di Bandung : Menghentikan kendaraan di tikungan, berkendara sambil menggunakan telepon seluler atau melawan arah, berbelok arah secara tiba-tiba, menyeberang jalan sembarangan adalah pemandangan lalu lintas Jakarta dan kota-kota besar lain sehari-hari. Demi mengejar kenyamanan sesaat, banyak orang mengabaikan keselamatan diri dan orang lain.Jalanan adalah cermin budaya masyarakat. Di luar persoalan sistem lalu lintas yang belum tertata dan buruknya infrastruktur, keruwetan di jalan menunjukkan banyak orang tidak memikirkan akibat dari tindakannya. Putusan atas berbagai hal diambil berdasarkan emosi, bukan pikiran rasional.

Diabaikannya rasionalitas juga ditunjukkan oleh banyaknya orang tertipu investasi yang menawarkan keuntungan berlebihan, terpilihnya anggota legislatif atau kepala daerah karena penampilan fisik, hingga perilaku sejumlah tokoh publik yang berbicara tanpa mengindahkan etika di depan masyarakat umum.

Ketidakmampuan berpikir logis itu membuat masyarakat tidak bisa berargumentasi dan mengungkapkan pemikiran secara terstruktur. Kondisi itu juga menyebabkan banyak masyarakat sulit diajak berdiskusi, selalu menganggap dirinya paling benar dan tidak bisa menghargai pemikiran orang lain.

”Ini sangat membahayakan Indonesia yang menjadi juara dunia heterogenitas,” kata Ketua Panitia Bulan Budaya Bernalar yang juga dosen Program Studi Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB) Premana W Premadi di sela-sela acara Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics di Museum Geologi Bandung, Sabtu (18/5).
Bulan Budaya Bernalar adalah gerakan yang dipelopori dosen-dosen ITB yang prihatin dengan kemampuan menalar masyarakat. Tidak dimilikinya keterampilan berpikir logis itu terjadi pada semua kelompok masyarakat, tidak mengenal pendidikan, kemampuan ekonomi, ataupun jabatan. Rendahnya kemampuan menalar juga terjadi pada mahasiswa sebagai kelompok masyarakat terdidik.

Kondisi itu diyakini akan membuat bangsa Indonesia sulit maju. Padahal, Indonesia menargetkan menjadi negara maju dengan pendapatan per kapita 14.250 dollar AS-15.500 dollar AS pada 2025. Inovasi dipastikan akan rendah. Gesekan sosial dan konflik antarkelompok pun akan makin sering terjadi.

Berpikir logis
Ketua Satuan Penjaminan Mutu ITB yang juga Guru Besar Aeronautika dan Astronautika ITB Ichsan Setya Putra mengatakan, kemampuan berpikir logis merupakan bekal hidup utama manusia agar mampu memberdayakan segala kemampuan yang dimiliki serta menyelesaikan masalah yang dihadapi untuk maju.
”Sejarah membuktikan bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki kemampuan berpikir logis,” ujarnya.

Mengutip buku Howard Gardner, Five Minds for the Future (2007), Ichsan menjelaskan kemampuan berpikir yang dibutuhkan di masa datang dalam dunia yang mengglobal adalah kemampuan berpikir untuk menghargai orang lain, menjunjung tinggi etika, fokus dalam satu bidang, menyintesis informasi, dan berpikir kreatif.

Kemampuan untuk menghargai orang lain dan menjunjung etika penting dalam membangun hubungan dengan sesama. Kemampuan ini membuat seseorang sadar dan menghargai perbedaan setiap manusia. Tanpa kemampuan ini, orang akan sulit bekerja sama, berkomunikasi, dan membangun kepercayaan terhadap orang lain.
Ketiga kemampuan lain berkaitan dengan proses kognisi. Kemampuan untuk fokus dalam satu bidang dilandasi keterbatasan manusia yang tidak bisa menguasai semua hal. Penguasaan satu ilmu tertentu diperlukan sebagai jalan untuk membangun pola pikir karena otak tidak bisa memahami sesuatu secara intuitif atau berdasar kemauan hati.

Sintesis informasi
Berbekal pengetahuan yang dimiliki, seseorang akan mampu menyintesis informasi yang dihadapi. Di era tsunami digital, kemampuan ini penting untuk menyaring informasi yang melimpah dan menjadikannya sebagai pengetahuan yang berguna. Kemampuan ini juga diperlukan untuk mengintegrasikan berbagai ide menjadi satu kesatuan utuh dan mengomunikasikannya kepada orang lain.

Dengan pola pikir dan kemampuan menyintesis informasi, seseorang dapat mendayagunakan pikiran untuk berpikir kreatif. Kreativitas yang dibangun berdasar gagasan bisa dimanfaatkan untuk membangun inovasi, menciptakan peluang, hingga membuat perubahan.

Pendiri Eureka, Math, and Science Learning Center yang juga dosen Program Studi Fisika ITB Alexander A Iskandar mengatakan, guru memegang peranan kunci untuk memperbaiki kemampuan bernalar masyarakat. Di saat informasi datang dari berbagai sumber seperti sekarang, guru tak lagi bisa dijadikan sebagai pemegang kebenaran tunggal.
Karena itu, pendidikan berkelanjutan mutlak diperlukan guru. Bukan hanya soal pedagogi, melainkan yang lebih penting adalah penguasaan guru atas materi yang diajarkan. Ini akan mengubah peran guru dari sumber utama pengajaran menjadi pendamping siswa.

Kreativitas siswa dalam menyelesaikan masalah perlu dihargai, termasuk dalam menjawab persoalan sains dan matematika. Ini akan terus menumbuhkan keingintahuan siswa dan mendorong mereka untuk berani berpikir di luar pemikiran yang ada.

Advertisements

Grosir Tas Branded

Grosir Tas Branded : Until now , not many people are watching on a pretty serious problem in education . It is associated with the publication of the book ” Symbolic Violence in Schools ” by Nana Martono , which has opened our eyes , that there is still violence committed in schools , either by unscrupulous elements from within and outside the school . If you hear the word violence , the brain will instantly record that it was physically violent , as it is often the case in Indonesia at this time .

From ancient times , violence has always been a major way to apply discipline in children . In boarding schools , school , and even at home , as if it was lawful violence . Most of it can indeed be a deterrent effect on the child . However , in most of the other violence even becomes a mental burden , psychological disorders , fear , and even trauma . Especially if it is applied to children who are still in the early stages of learning .

In reality violence is still common , especially in education . In Indonesia , for example , Islamic elementary students Sudirman , Cijantung , East Jakarta , experienced physical violence from her teacher . Dilakban his mouth until the wounds , because it is often crowded in the classroom ( 28 November 2006 ) . Jakarta 282 junior high school students also get the violence of English teacher , slapped for not working on a given task ( Ramadan , 2008) .

Seeing the above sequence of events , it can be interpreted that the concept of violence committed no disciplinary issues to the fore again . But more on personal psychological pressure , which was the action of the student have offended dignity of the teacher . Supposedly the teacher can be more mature in this regard . Physical violence as it will only have a negative impact .

This is in contrast to symbolic violence Martono Nana revealed , in his book comes from an idea of ​​educational sociology , Pierre Bourdieu . In the book the authors conclude , that symbolic violence is violence that is only a symbol , not a real , walking slowly , but very striking implications for psychology students or pupils . Like the class divisions that distinguish between class and class favorites are not favorites . More favorite class is filled with students from the upper classes ( the rich ) , and the favorite is not filled with students from the lower classes ( the poor ) .

Distinguish between upper class and lower class , meaning slowly been oppressing the poor . Of economic limitations , making stagnant school students . As a result , the brain is supposed to be geared and designed for the future instead stagnated , even regressive mindset . Children are supposed to excel defeated by the son of the ” connoisseurs ” .
Coupled with the emergence of BSE ( Electronic School Book ) , and restricted to the elementary students . Symbolic violence here in the book more accessible Indonesian . Indonesian subjects at the elementary school level , is a subject that is still in the stage of letter recognition , word and sentence formation compiled from existing objects in the surrounding environment of the child .
However , Indonesian BSE that support the learning process , even includes the language of the upper class ( rich ) , which is mostly unknown and terdapatkan in the children of the lower classes ( the poor ) . Like the mention of the name of father , mother , grandparent . The mention of jobs such as doctors , pilots , flight attendants .

The mention of vacation spots , beaches , Taman Mini , highlight , or even depictions of house plans that describe the shape of a car garage , refrigerator , washing machine . Elementary school students who have never known such words before , his imagination will be forced to spin , imagine anything that he had never seen .

Childhood is also planting the formation of moral character , and his memory response is strongly influenced by the surrounding environment . Very wide imagination relates to what he knows . The presence of BSE would remain positive and negative impacts on the child . If he was not introduced to something that was never known before , then it would still not know , or will know but in the long process .

However , if the child continues to be forced to accept what has become the rule , then maybe he even considers that what is in the surrounding environment is bad , is not included in the quality of education being taught in school .

First , the family that plays an important role in the formation of character and knowledge of the child first . Second , teachers should be able to direct students to the imagination imagination acceptable and in accordance with their capacity . How important is it rising BSE will not have any effect on the students , if there is no direction from the teacher . Only a handful of elementary school students who want to read their own school books received , this is where the role of the teacher is needed .

Not only a teacher who is smart and can control his students, but more will be required of teachers who really have a love of the soul devotion . Being able to generalize over the rights and obligations of the participant students .